Waddedaily.com | Jakarta — Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Dr. Aris Adi Leksono, M.Pd, menilai Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai figur yang merepresentasikan keulamaan transformatif Nahdlatul Ulama—ulama yang mampu menjaga tradisi, sekaligus memimpin NU menghadapi perubahan sosial, pendidikan, dan geopolitik global.
Menurut Dr. Aris, NU ke depan membutuhkan Rais ‘Aam yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga memiliki keteguhan moral, pengalaman kelembagaan, serta visi keberlanjutan jam‘iyyah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“NU sedang berada pada fase penting: menjaga otoritas keulamaan sekaligus memastikan relevansi sosialnya. Kiai Asep adalah figur yang memiliki keseimbangan antara kedalaman tradisi dan keberanian melakukan terobosan,” ujar Dr. Aris.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH. Asep dinilai berhasil menunjukkan bahwa pesantren tidak harus terjebak pada dikotomi tradisional-modern. Di bawah kepemimpinannya, pesantren berkembang menjadi pusat kaderisasi ulama, intelektual, dan pemimpin umat dengan jangkauan nasional hingga internasional.
“Model pesantren yang dikembangkan Kiai Asep mencerminkan wajah NU masa depan: kokoh dalam turats keilmuan, namun adaptif terhadap tuntutan zaman. Ini relevan dengan kebutuhan kepemimpinan Rais ‘Aam hari ini,” jelasnya.
Pergunu juga menyoroti pentingnya figur Rais ‘Aam yang memiliki kemandirian personal dan institusional. KH. Asep dikenal memiliki kemandirian ekonomi yang mapan, sehingga dinilai mampu menjaga jarak dari kepentingan politik praktis dan tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu objektivitas keulamaan NU.
“Keulamaan yang merdeka lahir dari kemandirian. Dalam hal ini, Kiai Asep memiliki prasyarat etik untuk menjaga NU tetap berdiri di atas kepentingan umat, bukan kepentingan sesaat,” tegas Dr. Aris.
Dari sisi kebangsaan, kiprah KH. Asep mendapat pengakuan negara melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Narayana atas dedikasinya dalam pengembangan pendidikan dan pesantren. Ia juga merupakan guru besar yang tetap berpijak pada kultur pesantren, menjembatani dunia akademik dan tradisi keulamaan akar rumput NU.
“NU membutuhkan figur pemersatu yang bisa diterima oleh kiai pesantren, intelektual kampus, dan warga nahdliyin di akar rumput. Kiai Asep memiliki modal sosial dan kultural itu,” tambahnya.
Atas pertimbangan tersebut, Pergunu memandang Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai salah satu figur strategis yang layak dipertimbangkan untuk mengemban amanah Rais ‘Aam PBNU, guna memastikan kesinambungan kepemimpinan keulamaan yang berwibawa, independen, dan berpihak pada pendidikan serta kemaslahatan umat.
Pergunu menegaskan bahwa pandangan ini disampaikan dalam semangat khidmah, musyawarah, dan penghormatan penuh terhadap mekanisme organisasi serta tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah yang menjadi ruh Nahdlatul Ulama.






