Waddedaily.com | Serang,– Komitmen Pemerintah Kabupaten Serang dalam menjaga produktivitas sektor pertanian terus diwujudkan melalui berbagai program strategis. Memasuki musim kemarau 2026, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang menggulirkan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) sebagai bentuk dukungan nyata kepada petani agar aktivitas budidaya tetap berjalan optimal.
Melalui program yang merupakan bagian dari upaya peningkatan ketahanan pangan nasional tersebut, Kabupaten Serang memperoleh alokasi optimalisasi lahan seluas 1.599 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua kali panen dalam setahun, sehingga produktivitas lahan dan pendapatan petani dapat terus meningkat.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp4,6 juta per hektare. Untuk satu hamparan dengan luas minimal 20 hektare, total bantuan yang diterima mencapai sekitar Rp96 juta.
Anggaran tersebut dapat dimanfaatkan kelompok tani untuk pembangunan irigasi pompa, perbaikan saluran air, hingga pembangunan jalan produksi yang menunjang kelancaran aktivitas pertanian.
Tak hanya melalui bantuan Oplah, DKPP Kabupaten Serang juga telah memperkuat sarana pendukung dengan memperbaiki sekitar 600 unit pompa irigasi sejak tahun 2023. Pompa-pompa tersebut kini siap dimanfaatkan di berbagai titik sumber air sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo, mengatakan hingga saat ini kondisi pertanian di Kabupaten Serang masih relatif aman. Meskipun BMKG menetapkan wilayah Serang dalam status peringatan dini waspada dan siaga kekeringan, belum terdapat laporan kerusakan tanaman maupun puso akibat kekurangan air.
“Kekeringan belum ada laporan yang masuk ke kita. Kalau sedikit kekurangan memang ada tapi kalau sampai puso itu belum ada laporannya dan tetap akan kami awasi terus,” ujarnya, Jumat, (17/7/2026).
Menurutnya, aktivitas pertanian juga masih berjalan normal. Bahkan sejumlah wilayah sentra produksi seperti Kecamatan Pontang, Tanara, dan Tirtayasa saat ini tengah memasuki masa panen yang berlangsung hingga akhir Juli sampai Agustus 2026.
Di sisi lain, kondisi sumber air masih cukup mendukung kebutuhan pertanian. Di wilayah Cigelam sempat terjadi luapan air akibat pembukaan Bendungan Pamarayan karena kapasitas saluran tidak mampu menampung debit air, yang menunjukkan ketersediaan air di bendungan masih memadai.
Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menghadapi dinamika cuaca selama musim kemarau.
“Kalau beberapa hari kemudian gak ada hujan mungkin kita agak khawatir juga tapi kita tetap harus waspada,” katanya.
Agar pelaksanaan Program Optimalisasi Lahan berjalan tepat sasaran, penyusunan perencanaan teknis dilakukan bersama Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sesuai arahan Kementerian Pertanian.
Langkah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Pemerintah Kabupaten Serang dalam memperkuat infrastruktur pertanian sekaligus meminimalkan risiko kekeringan terhadap produktivitas petani.
“Perencanaan teknis program ini disusun bekerja sama dengan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sesuai arahan Kementerian Pertanian, sebagai upaya nyata mencegah dampak buruk kekeringan di musim kemarau,” terang Suhardjo.
Melalui penguatan infrastruktur, bantuan sarana produksi, dan pendampingan teknis yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Serang berharap sektor pertanian semakin tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim serta mampu menjaga ketahanan pangan daerah secara berkesinambungan. (Adv)







